jump to navigation

something about love June 18, 2009

Posted by worldnemesis in Free ArtIkEl.
add a comment

Ternyata g selamanya org yg sedang tw dalam cinta itu bahagia terkadang sebagian besar dari yg merasa bahagia justru  merasakan  sakit hati karenanya, namun karena ia terlalu mengagunggkan cinta manis tw pahitnya cinta akan ia telan bulat2 tanpa merasakan itu sbg suatu hal yg menyakitkan.

Namun tak menutupkemungkinan, bahwa ia akan merasa terluka karena suatu pebgkhianatan tertentu. sbg cnth, seorang wanita yg dikhianati oleh kekasihnya padahal ia sangat menyayangi dan mencintai pasangannya itu. dan apa yg akhirnya terjadi…???

Yang terjadi selanjutnya adl.. Wanita itu akan merasa tertekan dan terkadang sangat mengganggu perkembangan mental si wanita ( dlm hal ini wanita remaja).selain itu akibat dari putus dan berakhirnya hubungan mereka adl ketidak percayaan si wanita terhadap pria lain di sekitarnya dan ketidak percayaannya terhadap dirinya sendiri.

Bukan hanya itu saja, kita ambil contoh bahwa wanita ini adl seorg pelajar tingkat menengah akhir dan si pria adl seorg pelajar tw munkin mahasiswa ingat ya ini hanya perumpamaan saja, dan si wanita ini adl pelajar yg cukup berprestasi di klsnya sebelum tw sesudah ia berhubungan ( pacaran ) dgn kekasihnya. hingga pada akhirnya hub mereka harus berakhir yg tersisa hanyalah sebuah penyesalan dan sejuta pertanyaan ” Kenapa ia tega mengkhianati ku…”  yg pda akhirnya nanti takkan menemui jawabannya…

Dan yg kan sering terjadi adl kecenderungan si wanita melamun dgn ta2pan kosong dan kebencian terhadap lawan jenis yg tanpa ia sadari, serta kebiasaan si wanita menulis buku harian yg banyak membahas pria yg tlah menyakitinya dan kebencian yg mendalam kepada arti sebuah cinta yg tak ia rasakan sama dgn cerita manis kebanyakan org,….

Proses Pelantikan June 10, 2009

Posted by worldnemesis in My MoMEnt.
add a comment

Sebentar lgi, ku dan teman-teman satu angkatanku akan mengikuti proses pelantikan. perkiraannya bakal diadain bulan juli mendatang saat peneriman siswa baru dimulai, rasanya aku udah g sabar lagi d.. apalagi di pelantikan itu kita bakal diuji mengenai materi2 tw hl lin yg masih te2p berhubungan dgn eskul kita.

Pelantikannya bakal diadain selama kurang lebih 3 hr 2 mlm, waktu yg gb sebentar utk sebuah proses pelantikan, dari yg ku dengar pelantikan kita itu bertempat diluar sekolah tw munkin malah di luar kota… seru juga tuh kalo smp beneran di luar kota psti seru, menegangkan dan pastinya bakal berkesan banget bwt ku dan angkatanku.

Duuuh….. dah g sabar deh bwt pelantikan itu.. ya, walaupun banyak bgt yg harus aku, kelompok dan angkatanku persiapin bwt pelantikan itu, tapi wht ever will be will be, w harus bisa ngelewtin proses demi proses di pelantikan itu. Oia, tw g salah satu peraltan yg harus kita yaitu tenda, pasak, jas hujan dan msih banyak lagi peralatan yg kan kita persiapin tuk hari H nya, N the last 1 is…. I HOPE WE PAST THE STEP By STEP in Our Eskul…

DWI  UTAMI

KHAYALAN May 14, 2009

Posted by worldnemesis in MY PoEm.
comments closed

SAAT KATA TAK BISA BUKTIKAN SEMUANYA..

SAAT PERBUATAN HANYALAH SANDIWARA..

KETIKA JARAK YANG JADI MASALAH UTAMA..

SEMUA LENYAP, HILANG BEGITU SAJA..

CINTA TAK LAGI TERUCAP DAN RASA SAYANG TAK LAGI ADA..

SEMUA BERUBAH SEMUA BERBEDA MENJADI BEGITU ASING..

SEMUA HANCUR BEGITU SAJA TANPA ADA YANG

MENYANGKA..

SINGKAT CERITA AKU YANG TERLUKA DAN AKU JUGA YANG

BERDUKA

KARENA CINTA….

BY:

DWI UTAMI

Pendidikan Lingkungan May 14, 2009

Posted by worldnemesis in PeNdIdiKAN.
comments closed

Menulis itu mudah

November 13th, 2005 by timpakul in modul · No Comments

MENULIS. Bukanlah hal yang sangat sulit dilakukan. Berlatih dan berlatih adalah cara untuk mewujudkannya. Menulis sebuah pengalaman (termasuk dalam melakukan penelitian) merupakan hal yang menyenangkan, apalagi bila ada yang membaca dan berkomentar atas tulisan yang dibuat. Menulis adalah salah satu bentuk penyampaikan informasi (komunikasi) kepada orang lain.

Menuliskan pengalaman

Usahakan untuk tidak terbelenggu dengan keterbatasan. Menulis harus membebaskan pikiran dari rasa takut dan rasa salah. Tuliskanlah apa yang ingin ditulis. Setelah itu baru dilakukan penyempurnaan yang dapat dilakukan secara bersama-sama dengan kawan ataupun secara sendiri. Hindari rasa takut dikritik dan diberi saran. Karena kritik dan saran merupakan pemacu agar tulisan dapat menjadi lebih baik.

Untuk diketahui, dalam membuat sebuah tulisan setidaknya mengetahui siapa yang akan membaca tulisan anda, media apa yang akan dipergunakan, dan kira-kira berapa lama pembaca akan meluangkan waktu untuk membaca tulisan anda.

Sangat disarankan untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh sebagian besar orang. Menggunakan bahasa lokal, bila tulisan diperuntukkan bagi sebuah kelompok masyarakat lokal yang memiliki bahasa sama, adalah sangat disarankan.

Apa saja yang bisa membuat tulisan menjadi menarik?

Ada beberapa hal yang menjadikan tulisan menjadi menarik dilihat dan dibaca. Misalnya dengan mengaitkan dengan kondisi terbaru, mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari, serta menampilkan hal-hal baru.

Hal lain yang membuat orang tertarik membaca tulisan adalah dengan ditampilkannya gambar (termasuk foto). Namun penting diingat agar tidak terlalu banyak menampilkan gambar dan foto yang tidak berkaitan dengan tulisan yang dibuat.

Merangkai tulisan

Dalam menuliskan pengalaman (penelitian), disarankan untuk menyampaikan informasi sejak pada baris awal tulisan. Namun diusahakan agar dalam satu paragrap hanya menampilkan satu hal yang ingin disampaikan. Dan dalam satu tulisan, tutuplah dengan beberapa baris sebagai kesimpulan dari cerita yang ingin disampaikan.

Prinsip-prinsip Pendidikan Lingkungan Hidup

November 13th, 2005 by timpakul in modul · No Comments

Pendidikan lingkungan hidup haruslah:

  • Mempertimbangkan lingkungan sebagai suatu totalitas — alami dan buatan, bersifat teknologi dan sosial (ekonomi, politik, kultural, historis, moral, estetika);
  • Merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus dan sepanjang hidup, dimulai pada jaman pra sekolah, dan berlanjut ke tahap pendidikan formal maupun non formal;
  • Mempunyai pendekatan yang sifatnya interdisipliner, dengan menarik/mengambil isi atau ciri spesifik dari masing-masing disiplin ilmu sehingga memungkinkan suatu pendekatan yang holistik dan perspektif yang seimbang.
  • Meneliti (examine) issue lingkungan yang utama dari sudut pandang lokal, nasional, regional dan internasional, sehingga siswa dapat menerima insight mengenai kondisi lingkungan di wilayah geografis yang lain;
  • Memberi tekanan pada situasi lingkungan saat ini dan situasi lingkungan yang potensial, dengan memasukkan pertimbangan perspektif historisnya;
  • Mempromosikan nilai dan pentingnya kerjasama lokal, nasional dan internasional untuk mencegah dan memecahkan masalah-masalah lingkungan;
  • Secara eksplisit mempertimbangkan/memperhitungkan aspek lingkungan dalam rencana pembangunan dan pertumbuhan;
  • Memampukan peserta didik untuk mempunyai peran dalam merencanakan pengalaman belajar mereka, dan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut;
  • Menghubungkan (relate) kepekaan kepada lingkungan, pengetahuan, ketrampilan untuk memecahkan masalah dan klarifikasi nilai pada setiap tahap umur, tetapi bagi umur muda (tahun-tahun pertama) diberikan tekanan yang khusus terhadap kepekaan lingkungan terhadap lingkungan tempat mereka hidup;
  • Membantu peserta didik untuk menemukan (discover) gejala-gejala dan penyebab dari masalah lingkungan;
  • Memberi tekanan mengenai kompleksitas masalah lingkungan, sehingga diperlukan kemampuan untuk berfikir secara kritis dengan ketrampilan untuk memecahkan masalah.
  • Memanfaatkan beraneka ragam situasi pembelajaran (learning environment) dan berbagai pendekatan dalam pembelajaran mengenai dan dari lingkungan dengan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya praktis dan memberikan pengalaman secara langsung (first – hand experience).

tentang pendidikan lingkungan hidup

Noendvember 12th, 2005 by lingkungan in informasi · No Comments

Pendidikan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam meraih keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan hidup, juga menjadi sarana yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan. lbarat sebuah pelita dalam kegelapan malam, pendidikan lingkungan hadir sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian akan lingkungan. Pendidikan lingkungan tidak akan merubah situasi dan kondisi yang telah rusak menjadi baik dalam waktu sekejap, melainkan membutuhkan waktu, proses dan sumber daya.

→ No Comments

JPL Kaltim Raih Stand Terbaik III Pameran Pembangunan Kaltim 2005

September 9th, 2005 by timpakul in kegiatan · No Comments

JPL Kaltim Raih Stand Terbaik IIIJaringan Pendidikan Lingkungan Hidup Kalimantan Timur (JPL Kaltim) selama delapan hari mengikuti pameran pembangunan Expo Kaltim 2005 bertempat di GOR Segiri Samarinda. Dalam Pameran Pembangunan kali ini, JPL Kaltim menyajikan gambaran kondisi lingkungan hidup dan keanekaragamanan hayati di beberapa tempat di Kaltim. Selain itu, JPL Kaltim juga menginformasikan tentang pendidikan lingkungan hidup, aktivitas anggota JPL Kaltim serta membagikan informasi berkaitan lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.

Dalam Pameran Pembangunan kali ini, JPL Kaltim yang dibantu oleh kawan-kawan kader konservasi dan kader lingkungan Kota Samarinda, memperoleh penghargaan sebagai stand terbaik III dan hingga penutupan telah dikunjungi lebih dari 1.800 pengunjung. Gubernur Kaltim yang mengunjungi stand JPL Kaltim saat acara pembukaan juga menandatangani dukungan terhadap aktivitas pendidikan lingkungan hidup di Kalitm dan pelaksanaan Pertemuan Nasional Jaringan Pendidikan Lingkungan Hidup di Kalimantan Timur tahun 2007.

From:

Google

Proses Pengukuhan May 14, 2009

Posted by worldnemesis in My MoMEnt.
comments closed

Proses pengukuhan w, dimulai sejak hari sabtu s/d Hari minggu siang sebelum itu banyak banget persiapan dan peralatan yg harus, kudu, wajib dan mesti dibawa buat disna.

Pengukuhan w itu, bertempat di sekolah kita yaitu SMKN 45 Jakarta. kita, w dan temen2 satu angkatan w emang datang agak terlambat dari waktu yg udah ditentuin sebelumnya, bukan karena apa tapi karena kita harus saling tunggu anggota lain yg belum datang dan juga nyiapin beberapa peralatan yg belum atau lupa buat kita siapin sebelumnya..

Setelah semua kumpul, kita langsung ke sekolah dan kita langsung apel pembukaan di sekolah. setelah apel kita langsumg siap2, pertama2 kita ngebersihin ruang kelas yg bakal kita pake buat kita tidur malam harinya. waktu teruz berjalan, menjelang sore hari ternyata hujan turun lumayan deras dan ngebuat rencana panitia persiapan pengukuhan jadi agak sedikit terganggu, tapi semua berjalan dgn baik. sehabis shalat maghrib kita semua makan malam bersama dan seperti sudah jadi tradisi kita makan dgn sekian hitungan agak nyebelin sich… tapi so far kita seneng2 aja ko’…

Selesai makan dan sharing2 kita semua diminta untuk kumpul diruang kelas 3pj1, itu kalo aku g salh lhoo.. aku udah sedikit lupa dimana kita diminta buat kumpul. tapi yg jelas dikelas itu kami yg menjadi peserta pengukuhan diminta untuk menjawab beberapa soal mengenai eskul kami dan juga diminta untuk menceritakan sedikit sejarah eskul kami, setelah itu kami diminta untuk beristirahat dan sekaligus tidur malam tapi,karena diantara kami belum mengantuk dan tak terbiasa tidur lebih awa beberapa diantara kami hanya terdiam tanpa suara agar tak menggangu tidur teman2 yg lain..

Belum juga nyenyak tidur kami , kami harus dibangunkan secara paksa untuk mengikuti proses selanjutnya. agak nyebelin sich waktu kita harus dibangunin secara paksa gitu tapi mau gimana lagi bisa dibilang ini udah jadi keharusan bagi kita. Dan selanjutnya kita berganti baju seragam dengan celana olah raga dan kaos hitam lagi2 dgn sekian hitungan..

Setelah berganti baju, kita semua ngejalanin Post To Post, dan kebetulan ada kalo w g salah ada sekitar 5 Post yg harus kita lewati ada macam2 d.. Ada post Materi, Fisik, Mental,Cinta tanah air, dan juga Post Kepemimpinan.. Kalo w g salah sich itu nama2nya…

Dan udah pasti, apa yg harus kita lakuin itu sesuai dgn nama postnya masing2 dan udah bisa kebayang dong apa aja yg kita lakuin di post fisik…? ya, sama seperti fikiran kalian dan itu g terlalu buruk ko’ kalo kalian sendiri ngikutin prosesnya…

Setelah Post To Post selesai kami semua berkumpul ditangah lapangan yg agak sedikit becek dan basah karena hujan sore harinya, kami berkumpul bersama dgn kakak2 alumni yg juga dateng buat nyaksi’in proses pengukuhan kami, setelah beberapa saat kami sharing2 terdengar sebuah suara mobil ambulanceyg begitu memekakkan telinga dan g lama kemudian sebuah keranda dikeluarkan dari mobil ambulance tersebut, dan suasana mendadak menjadi berubah hingga membuat bulu roman kami berdiri..

Dan ternyata apa yg keluar dari mobil ambulance tersebut dinaikkan dan diletakkan keruang kelas 2ak1, seteh itu kami diberitahu bahwa kami harus mengambil sesutu yg nantinya menjadi ciri bagi eskul kami. tapi untuk mendapatkannya tidak semudah membayangkannya, dari lantai 1 kami harus naik ke lantai 3 dan g dgn begitu aja kita bisa ke lantai satu ada sesuatu yg sengaja menghambat kami. dan setelah ada di lantai 3 kami harus masuk keruang kelas 2ak1 dan kurasa  kalian semua tentu udah tahu apa yg ada disana dan didalam kelas tersebut kami harus mengambil sesuatu tersebut. dan pastinya bisa kalian bayangin apa yg bakal ngebuat kami jadi takut dan teriak2an dgn sangat kerasnya…

Setelah melewati ketakutan untuk beberapa saat kami dikumpulkan dalam stu rung kelas yaitu dilantai 1 kelas 3ak1 setelah semua melewati proses tersebut kami dipersilakan untuk tidur kembali ya walupun hanya beberapa saat saja sebelum waktu subuh tiba, dan saat subuh tiba kami semua shalat subuh bersama setelah itu kami mandi pagi lalu sarapan bersama dan setelah itu kami senam bersama2…

Dan… setelah siang datang kami diperbolehkan pulang setelah sebelumnya kami apel penutupan proses pengukuhan. dan aku rasa aku g bakal bisa buat ngelupain semua yg udah kami jalanin bareng2 dalam pengukuhan tersebut dan g akn pernah bisa buat ngelupain kebersamaan kami dalam ngejalanin tiap2 postnya, Pokoknya semua ini sangat berarti untuk menjadi salah satu kenangan ku kelak…

Ini hanya beberapa yg aku inget dari proses itu dan kalau pun ada yg lupa atau agak salah ya harus dimaklumi aja ini kan udah lumayan lama berlangsungnya tapi mau selama apa pun aku g kan pernah bisa ngelupain hal ini…….

PERSAHABATAN May 11, 2009

Posted by worldnemesis in MY PoEm.
add a comment

PERSAHABATAN adalah segalanya..

Dimana kita berada, Kita ingat mereka..

Tiada tawa dan kegembiraan tanpa sahabat

Mereka adalah udara bagi kita

Tangis, Canda,Tawa,Suaka dan Duka kita lalui bersama

Saat ku pergi kau turutr serta

SAHABAT…

Kusenang kita bersama, Banyak hal kita lalui bersama

Apa kau tahu? Ku sayang kalian sahabatku..

Walau tak bisakutunjukkan dengan air mata..

Walau tak kuungkapkan dengan kata-kata

Kalianlah  Sahabatku dalamhidupku..

SAHABAT…

Kuharap tak akan pernah kalian lupakan aku…

By:

DWI UTAMI

Sebuah Kebencian May 11, 2009

Posted by worldnemesis in MY PoEm.
comments closed

Ada nama yang kubenci

Karena Dia ku sakit hati

Karena Dia ku tak mau dekat dgn lelaki

Dan karena Dia pula kini ku sendiri

Ku tak tahu bagaimana hati ini

Apakah ku harus pergi dan berlari dari kenyataan ini…

Kenyataan yg membuatku selalu ingin sendiri,

Tanpa seorang kekasih hati…

By:

DWI UTAMI

education in dutch era May 8, 2009

Posted by worldnemesis in PeNdIdiKAN.
comments closed

Pendidikan di Zaman Penjajahan Belanda

5 02 2007

Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC. Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Hal ini juga dikuatkan dari profil para guru di masa ini yang umumnya juga merangkap sebagai guru agama (Kristen). Dan sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan memiliki lisensi (surat izin) yang diterbitkan oleh VOC setelah sebelumnya mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi.

Kondisi pendidikan di zaman VOC juga tidak melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi. VOC memang mendirikan sekolah-sekolah baru selain mengambil alih lembaga-lembaga pendidikan yang sebelumnya berstatus milik penguasa kolonial Portugis atau gereja Katholik Roma. Secara geografis, pusat pendidikan yang dikelola VOC juga relative terbatas di daerah Maluku dan sekitarnya. Di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya.

Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:

(1) Pendidikan Dasar

Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara, berdiri tahun 1630); Dll.

(2) Sekolah Latin

Diawali dengan sistem numpang-tinggal (in de kost) di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.

(3) Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)

Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.

(4) Academie der Marine (Akademi Pelayanan)

Berdiri tahun 1743, dimaksudkan untuk mendidik calon perwira pelayaran dengan lama studi 6 tahun. Materi pelajarannya meliputi matematika, bahasa Latin, bahasa ketimuran (Melayu, Malabar dan Persia), navigasi, menulis, menggambar, agama, keterampilan naik kuda, anggar, dan dansa. Tetapi iapun akhirnya ditutup tahun 1755.

(5) Sekolah Cina

1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.

(6) Pendidikan Islam

Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.

Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya. Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain: (1) Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu; (2) Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial; (3) Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.; (4) Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial. Jadi secara tidak langsung, Belanda telah memanfaatkan kelas aristokrat pribumi untuk melanggengkan status quo kekuasaan kolonial di Indonesia.

Era ini sesungguhnya telah beroleh pengaruh dari faham gerakan Aufklarung (pencerahan) yang berkembang di Eropa. Di antara tesisnya menyebutkan tentang penghargaan terhadap nalar, kebebasan spiritual serta sekularisasi agama dan negara. Implikasi logis dari hal ini salah satunya adalah penyerahan pengelolaan pendidikan kepada negara, bukan lagi kepada lembaga-lembaga keagamaan (gereja). Secara formil, pemerintah Hindia Belanda telah mendirikan beberapa sekolah di Jawa sejak kepemimpinan Daendels, yaitu sekolah artileri (1806) di Jatinegara, sekolah pelayaran (1808) di Semarang, sekolah bidan (1809) di Jakarta, dan sekolah seni tari (1809) di Cirebon. Daendels ini juga dikenal sebagai tokoh pertama yang menginstruksikan para bupati agar mengusahakan pendirian sekolah-sekolah bagi remaja-remaja pribumi. Janssens yang menggantikan Daendels juga meneruskan kebijakan yang serupa di bidang pendidikan. Tetapi usahanya terinterupsi dengan kekalahan militer dan politik dari kerajaan Inggris. Hindia Belanda selanjutnya dikelola oleh Inggris di bawah Raffles. Secara kelembagaan formal, Inggris tidaklah menaruh perhatian besar kepada dunia pendidikan bagi kaum pribumi. Hanya saja, mereka tergolong sangat berminat melakukan eksplorasi ilmiah yang kemudian menghasilkan karya-karya intelektual yang cukup monumental, antara lain: History of Java karya Raffles, sejarah Sumatera, kamus Melayu dan pelajaran bahasa Melayu yang merupakan karya-karya Marsden, Java Government Gazette yang memuat ilmu pengetahuan tentang daerah dan penduduk, hasil kajian botani oleh Horsfield, dan juga kajian kepemilikan tanah di Jawa oleh Colin Mackenzie. Karya-karya tersebut memberi kontribusi signifikan bagi dunia ilmu pengetahuan sekaligus menjadi penanda khusus masa lima tahun (1811-1816) kekuasaan Inggris di Indonesia. Masa pemulihan kekuasaan Belanda pasca pendudukan Inggris menjadi titik tolak baru bagi perkembangan lebih maju dunia pendidikan di Indonesia.

Pada masa ini, pendidikan bagi pribumi kembali dirasa penting guna menopang operasionalisasi pemerintahan Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Van den Bosch (1829-1834) yang dikenal sebagai penggagas Cultuurstelsel tercatat pernah menerbitkan edaran agar didirikan sekolah dasar negeri di tiap karesidenan atas biaya Bijbelgenootschap (persekutuan Injil) tahun 1831. Tetapi kurang beroleh tanggapan karena menyelisihi prinsip netral sikap pemerintah dalam soal agama. Baru kemudian tahun 1848, dengan keluarnya Keputusan Raja, diinstruksikan untuk mendirikan sekolah-sekolah pribumi dengan pembiayaan sebesar f. 25.000 setahun yang dibebankan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendidik para calon pegawai negeri. Sejak itulah berdiri dan berkembang sekolah-sekolah dari tingkat dasar dan lanjutan hingga tinggi yang memperkenankan golongan pribumi (aristokrat) untuk turut menikmati pendidikan. Untuk mengurusi pendidikan, agama dan kerajinan, pemerintah Hindia Belanda juga telah membentuk departemen khusus pada tahun 1867. Perkembangan ini kemudian sempat mengalami kemunduran karena krisis ekonomi dunia (malaise) yang berlangsung hampir satu dekade (1883-1892).

Perkembangan pendidikan di Indonesia mendapati tahapan barunya menjadi lebih progresif ketika memasuki tahun 1900, yakni era Ratu Juliana berkuasa di kerajaan Belanda. Van Deventer yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerapkan politik etis (Etische Politiek) pada tahun 1899 dengan motto “de Eereschuld” (hutang kehormatan) dan slogan “Educatie, Irigatie, Emigratie”. Prinsip-prinsip atau arah etis (etische koers) yang diterapkan di bidang pendidikan pada masa ini adalah: (1) Pendidikan dan pengetahuan Barat diterapkan sebanyak mungkin bagi pribumi. Bahasa Belanda diupayakan menjadi bahasa pengantar pendidikan; (2) Pendidikan rendah bagi pribumi disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sistem pendidikan pada masa ini belum lepas dari pola stratifikasi sosial yang telah ada, dan beroleh pengesahan legal sejak tahun 1848 dari penguasa kolonial. Dalam stratifikasi resmi tersebut dinyatakan bahwa penduduk dibagi kedalam 4 (empat) golongan: (1) Golongan Eropa; (2) Golongan yang dipersamakan dengan Eropa; (3) Golongan Bumiputera; dan (4) Golongan yang dipersamakan dengan Bumiputera. Tahun 1920, rumusan ini mengalami revisi menjadi seperti berikut ini: (1) Golongan Eropa; (2) Golongan Bumiputera; dan (3) Golongan Timur Asing. Perlu dicatat bahwa untuk golongan pribumi (bumiputera), secara sosial terstratifikasi sebagai berikut: (1) Golongan bangsawan (aristokrat) dan pemimpin adat; (2) Pemimpin agama (Ulama); dan (3) Rakyat biasa.

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan. (2) Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan. (3) Pendidikan tinggi.

TAMAN SISWA May 8, 2009

Posted by worldnemesis in PeNdIdiKAN.
comments closed

Ruwatan Bumi Tamansiswa

Ruwatan Bumi

Ruwatan bumi/kebangsaan yang dijadikan agenda utama pada malam kamis (2 Mei 2007) bertepatan dengan hari pendidikan nasional di Pendopo Tamansiswa ternyata tidak sepenuhnya berkaitan dengan HARDIKNAS tersebut.

Ruwatan pada dasarnya adalah usaha spiritual untuk menghilangkan “SUKERTO” yang bias terdapat pada diri perorangan, keluarga maupun organisasi/lembaga. Dan pada kesempatan tersebut majelis luhur persatuan taman siswa mengadakan ruwatan bumi untuk organisasi taman siswa dan bangsa Indonesia agar terhindar dari “SUKERTO”.

Sukerto yang dimaksud adalah Tantangan, Ancaman, Hambatan dan Gangguan didalam organisasi Taman Siswa pada khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya.

Diselenggarakannya Ruwatan Bumi ini untuk memohon ridho Tuhan YME agar organisasi Taman Siswa / Bangsa Indonesia terhindar dari TAHG dan mendapatkan tuntunan, petunjuk dan kemudahan untuk mencapai “Kejayaan” dari Nya. Taman siswa dapat mencorong kembali ke ajaran-ajaran yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara, sedang bangsa Indonesia terhindar dari segala bencana/musibah juga agar bumi Indonesia kembali Lestari.

Ruwatan Bumi dilaksanakan oleh dalang Ki Sutedjo yang merupakan alumni Taman Siswa dengan pagelaran wayang semalam suntuk dengan lakon Dew Ruci. Sebelum pagelaran wayang dimulai, terlebih dahulu dilakukan serah terima Wayang antara pihak pengurus majelis Taman siswa dengan Ki Sutedjo sebagai pertanda Ki Dalang yang memimpin acara ruwatan bumi tersebut.

Pagelaran wayang terbagi atas tiga babak. Babak pertama adalah babak pembukaan, babak kedua adalah acara inti dari ruwatan bumi dan babak ketiga adalah penutup. Setelah itu pagelaran wayang akan dilanjutkan kembali.

Pada babak kedua, Ki dalang akan membaca “mantra” dan melakukan Pathok Bumi. Pathok bumi disini yaitu, ki dalang akan menanam kayu (sebagai pathok) ke dalam tanah di lima penjuru (barat, timur, utara, selatan dan ditengah). Kayu yang digunakan sebagai pathok adalah kayu wali kukun yang didapatkan dari imogiri. Kayu tersebut menjadi pilihan karena kuat, dan diharapkan setelah bumi dipathok organisasi Taman Siswa dan bangsa Indonesia menjadi lebih kuat dalam menghadapi TAHG (Tantangan, Ancaman, Hambatan dan Gangguan) serta dalam bertindak dan berniat untuk kebaikan pun menjadi kuat, tidak mudah menyerah. Seperti dalam kalimat bahasa jawa “a teteken tekun tumuli bakan tekan” yang artinya dengan ketekunan, semangat yang kuat dan pengorbanan semua niat/tujuan akan kita dapatkan”.

Sedang cerita yang dilakonkan yaitu “MURWOKOLO”. Satu cerita yang biasa dilakonkan pada saat ruawatan. Berisi kebaikan melawan kejakatan. Hal ini dimaksudkan agar segala kejahatan, kejelekan dapat dihapus dan kesengsaraan dapat dihilangkan sehingga yang muncul adalah sikap yang baik, seperti budi pekerti, pengabdian, bijaksana dan lain sebagainya. Lama tidaknya acara ruwatan berlangsung merupakan hak Prerogatif dari sang dalang.

Kaitannya dengan HARDIKNAS

Sekarang banyak yang mempertanyakan kebijakan pendidikan nasional seperti ujian nasional (UNAS), Standar sekolah internasional (SSI), Standar sekolah nasional (SSN), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), dll yang lebih menonjolkan profesionalisme, kompetisi dan kompeten. Sehingga menghasilkan orang pintar namun egois, tidak bijak, tidak sopan dan mementingkan diri sendiri.

Hal tersebut jauh dari pendidikan ala Ki Hajar Dewantara yang lebih menonjolkan sikap pengabdian, kesederhanaan, kerja sama, budi pekerti, toleransi, dan kejujuran. Pendidikan yang sederhana namun mampu menghasilkan orang-orang bijak, sopan, nasionalisme dan patriotisme.

Dan dengan ruwatan bumi ini, diharapkan pendidikan di Taman Siswa khususnya dan pendidikan nasinal pada umumnya dapat kembali ke ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang selama ini diabaikan dan dilupakan.

KEHENINGAN MALAM May 8, 2009

Posted by worldnemesis in MY PoEm.
comments closed

KEHENINGAN MALAM INI TAK BERAKHIR SAMPAI DISINI..

TERASA LEBIH DALAM SAAT KERINDUAN SUDUTKAN KITA DALAM KESENDIRIAN..

KITA DIBALUT DENGAN KERAMAIAN…

TAPI SAYANG, KITA TETAP LARUT DALAM KEHENINGAN, SAAT INI…